Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di luar rahim, biasanya di tuba falopi. Kondisi ini tidak dapat berlanjut secara normal dan bisa berbahaya bagi ibu. Baru-baru ini, sebuah analisis terhadap data kematian federal di Amerika Serikat menemukan hampir 200 perempuan meninggal akibat kehamilan ektopik pada periode 2020–2025, hampir dua kali lipat dibandingkan enam tahun sebelumnya. Meski demikian, peningkatan ini belum tentu berarti jumlah kasus kehamilan ektopik itu sendiri meningkat. Para ahli masih meneliti penyebab pastinya.

Apa Itu Kehamilan Ektopik?

Kehamilan ektopik adalah kondisi ketika embrio menempel di luar rongga rahim. Lebih dari 90% kasus terjadi di tuba falopi, tetapi bisa juga di ovarium, leher rahim, rongga perut, atau bekas luka operasi caesar. Karena tidak ada ruang untuk berkembang, jaringan kehamilan dapat menyebabkan tuba pecah dan perdarahan internal yang mengancam nyawa. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan segera sangat penting.

Mengapa Kematian Akibat Kehamilan Ektopik Meningkat?

Salah satu faktor utama adalah keterlambatan diagnosis dan penanganan. Kehamilan ektopik sering muncul pada awal kehamilan, bahkan sebelum ibu melakukan pemeriksaan pertama. Akibatnya, banyak pasien baru datang ke rumah sakit ketika sudah mengalami gejala berat. Selain itu, diagnosis tidak selalu mudah; USG awal mungkin belum menunjukkan kantung kehamilan, sehingga dokter perlu memantau hormon dan melakukan USG lanjutan. Gangguan layanan kesehatan selama pandemi COVID-19 juga diduga berkontribusi, meskipun angka kematian tetap tinggi setelahnya.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik, antara lain:

  • Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya.
  • Riwayat operasi pada tuba falopi.
  • Operasi perut atau panggul.
  • Infeksi menular seksual (IMS) tertentu, seperti klamidia dan gonore.
  • Penyakit radang panggul (PID).
  • Endometriosis.
  • Kebiasaan merokok.
  • Usia di atas 35 tahun.
  • Riwayat infertilitas.

Infeksi menular seksual dapat menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada tuba falopi, sehingga mengganggu perjalanan sel telur ke rahim.

Dampak Larangan Aborsi terhadap Kematian Ibu

Analisis ProPublica juga menyoroti perbedaan angka kematian di negara bagian AS. Pada periode 2023–2025, angka kematian akibat kehamilan ektopik di negara bagian yang melarang aborsi setelah usia kehamilan enam minggu atau lebih awal tercatat sekitar 13,1 per satu juta kelahiran hidup. Sementara di negara bagian tanpa larangan, angkanya sekitar 7,1 per satu juta kelahiran hidup. Meski demikian, data ini bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Gejala Kehamilan Ektopik yang Harus Diwaspadai

Kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala seperti:

  • Nyeri perut atau panggul, terutama pada satu sisi.
  • Perdarahan vagina yang tidak seperti menstruasi biasa.
  • Nyeri bahu.
  • Pusing atau lemas berlebihan.
  • Pingsan.
  • Nyeri perut hebat yang muncul tiba-tiba.

Jika mengalami nyeri hebat, pingsan, atau gejala yang memburuk dengan cepat, segera cari pertolongan medis. Ini bisa menjadi tanda tuba falopi pecah dan perdarahan internal.

Apakah Kehamilan Ektopik Bisa Diobati?

Ya, kehamilan ektopik bisa ditangani. Pilihan pengobatan tergantung pada lokasi dan ukuran kehamilan, kondisi ibu, kadar hormon kehamilan, serta apakah tuba falopi sudah pecah. Jika terdeteksi dini, dokter dapat memberikan methotrexate untuk menghentikan pertumbuhan jaringan kehamilan. Namun, jika sudah pecah atau kondisi darurat, tindakan operasi mungkin diperlukan. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang untuk menghindari komplikasi serius.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Bunda, jika Anda mendapatkan hasil tes kehamilan positif dan mengalami nyeri perut atau panggul, terutama pada satu sisi, disertai perdarahan, pusing, nyeri bahu, atau pingsan, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Jangan menunggu hingga nyeri menjadi sangat berat. Kehamilan ektopik dapat mengancam nyawa jika tuba falopi pecah dan menyebabkan perdarahan internal. Deteksi dini adalah kunci keselamatan Anda dan buah hati.

Reporter: Fadila Utami